Minggu, 07 Juli 2013

Tepian Daun




           '' Kamu tau aku mencintaimu, untuk itu aku mengikhlaskanmu''
         Aku ingat, aku begitu hangat waktu itu. Entah karena demam atau Cuma sedang cemburu. Mungkin juga patah hati. Aku juga tidak tau kenapa aku layak untuk patah hati. Padahal aku dan matahari tidak pernah menjalin janji apa-apa. Hubungan kami pun ibarat sebatas dua benda yang saling memberi kabar dari jauh. Saling bertanya tentang manusia-manusia yang berlalu lalang dan anjing peliharaan yang tiba-tiba hilang. Kami sering berbicara, tentang apa saja. Aku bercerita kepadanya tentang akar yang tiba-tiba hendak melihat permukaan dan pucuk yang diam-diam ingin hidup tenang didalam kuburan. Aku juga bercerita kepadanya tentang ranting kecil yang berharap buah besar tumbuh dari tubuhnya dan batang pokok yang ternyata mulai bosan menahan kami semua.

            Namun, dia, matahari yang membuatku jatuh cinta, tidak pernah bercerita apa-apa.
Dia berkata, dia dilahirkan hanya untuk menyinari. Itu saja. Selebihnya, aku tidak tau hal lain tentang dia. Tapi aku mencintaintainya. Dan seseorang  yang sedang jatuh cinta adalah peneliti yang mahir, bukan?
           
            Maka, semenjak aku tau bahwa aku jatuh hati kepada matahari yang lahir hanya untuk menyinari, aku mencari tau tentangnya. Apapun tentang dia. Asal usulnya, sanak familinya, kerabat-kerabatnya, teman dan sahabatnya, musuhnya. Bahkan aku mencari tahu tentang sekolahnya, kampusnya, tempat mainnya, tempat dia menghabiskan waktunya saat istirahat, dan seterusnya. Sudah kubilang tadi, orang yang sedang jatuh cinta punya rasa penasaran yang bahkan bisa membunuh seekor harimau bengal.

            Tapi, aku tidak menemukan apapun tentangnya. Tidak satu pun, selain yang sudah dia beritahukan kepadaku. Bahwa dia matahari dan dia lahir hanya untuk menyinari.

Lalu, aku mulai curiga.
            Kamu tau apa yang ada dipikiranku, dipikiran setiap orang, ketika pagi berganti siang, siang menjadi sore, sore berubah petang, petang menjema malam, dan matahari kemudian menghilang? Ya, betul. Kemana lantas matahari pergi?
            Aku tidak pernah tau ini. dan dia membuaku penasaran setengah mati.
            Sejak itu aku mengenal bulan. Dia mirip matahari, tapi tidak seterang matahari. Tentu saja. Tidak ada yang bisa mengalahkan sinar matahari yang membuatku jatuh cinta. Tidak ada yang bisa menyainginya,karena dia cuma satu. Meski seluruh cahaya dari alam lain berkumpul dan bersatu untuk menundukan dia. Aku tidak bisa menemukan matahriku dimanapun, sebab aku hanya tepian daun. Aku hanya menunggu dia setiap pagi, menanti lembut sinarnya yang merayap disekujur tubuhku. Dia tidak pernah gagal membuatku merasa nyaman dan selalu hadir untuk menjadi teman.
            Oh ya, teman. Begitu pada akhirnya dia berkata kepadaku.
         “Aku hanya menganggapmu sebagai teman, sahabat” salah satu dari beratus-ratus miliar sulur cahayanya berbisik di telingaku. “Maaf, aku tidak memberitahumu selama ini, tapi aku jatih cinta kepada bulan.”
Sejak itu, cahayanya, cahaya matahari yang sempat membuatku jatuh cinta, tidak lagi terasa sama. Tidak pernah terasa sama.

            Aku tidak menyukai bulan. Sebab setiap dia ada, matahariku menjadi tidak ada.
            Kamu (matahari) datang ketika ketika aku begitu hangat, entah karena demam atau sedang cemburu. Namun, kamu seolah memahamiku. Kamu yang membuatku sejuk. Membuatku merasa beruntung lahir sebagai daun yang bisa merasakan tenang suaramu mengucap Selamat pagi.
Tapi ketika aku merasa pada akhirnya mampu jatuh cinta lagi, kamu tiba-tiba saja pergi.


ins.by: beberapa adegan di pagi hari



Tidak ada komentar:

Posting Komentar